Perangkat Wi-Fi mungkin sudah menjadi hal
yang sudah biasa bagi kita dan sering kita gunakan untuk menerima dan
memancarkan data dengan memanfaatkan gelombang radio. Namun berbeda dengan
Li-Fi, perangkat ini menggunakan cahaya lampu di rumah untuk mengirim atau
menerima data.
Li-fi(Light
Fidelity), pertama kali diperkenalkan oleh Harald Hass dari University of
Edinburg, Inggris. Mulai Oktober 2011, perusahaan yang dibentuk Li-Fi adalah
untuk mempromosikan kecepatan tinggi sistem optik nirkabel dan untuk mengatasi
kelemahan dari sistem nirkabel yang ada (Wi-Fi).
Teknologi Li-Fi(Light
Fidelity) ini menggunakan LED(Light
Emiting Diode) untuk mengirimkan data ke penerima dengan perubahan
intensitas cahaya yang begitu cepat sehingga tidak dapat dilihat oleh mata
manusia.
Kelebihan dari Li-Fi
1. Li-Fi lebih
murah daripada Wi-Fi.
2. Li-Fi
dapat digunakan di daerah sensitif elektromagnetik seperti di pesawat terbang
dan pembangkit listrik tenaga nuklir.
3.
Tidak seperti Wi-Fi, yang kapasitasnya
terbatas, Li-Fi tak terbatas kapasitasnya. Spektrum cahaya Li-Fi adalah 10.000 kali lebih besar dari Wi-Fi.
4. Li-Fi
menjanjikan kecepatan transfer yang lebih cepat dibanding Wi-Fi
5. Li-Fi mampu
mencapai kecepatan 10 Gbps.
6. Pemancar LED, yang ditempatkan secara merata, sehingga koneksi internet di
dalam ruangan tetap stabil.
7. Karena cahaya tidak bisa menembus
dinding, sehingga penggunaan Li-Fi lebih aman daripada Wi-Fi.
8. Li-Fi
juga mampu menyediakan konektivitas nirkabel dirumah tanpa takut terjadi
kebocoran sinyal.
Kelemahan dari Li-Fi:
1. LiFi memiliki range yang
kecil, karena jarak antara receiver dengan transmitter harus dekat.
2. Karena cahaya tidak bisa
menembus dinding, sehingga penggunaan Li-Fi hanya sebatas ruangan yang terdapat
cahaya dari Li-Fi.
Oleh karena itu, sampai sekarang Li-Fi masih terus
dikembangkan.
